Oleh : Abid
Muharram
Alhamdulilah kita
dipertemukan kembali dengan hari penuh keberkahan, malam peristiwa-peristiwa
agung bersejarah, diantaranya : Nabi Adam diampuni dosanya, Nabi Idris diangkat
ke langit, Nabi Nuh diselamatkan dari Banjir Bandang, Nabi Ibrahim diselamatkan
dari kobaran api Namrudz, Nabi Yusuf keluar dari penjara, Nabi Ayub sembuh dari
penyakitnya, Nabi Yunus dikeluarkan dari perut Ikan Paus dan masih banyak lagi.
Dari
peristiwa diatas yang teragung sehingga disyariatkannya puasa asyuro’ yakni diselamatkannya
Nabi Musa dari kejaran Fir’aun. Dikisahkan bahwa sebelumnya telah diramalkan
bahwa akan ada dari putra Bani Israil akan menggoyang singgasana Fir’aun yang
begitu sombong sampai mengaku sebagai Tuhan, dan akhirnya membuat perintah
untuk membunuh seluruh bayi laki-laki dari Bani Israil dan membiarkan bayi
perempuannya. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT:
وإذ نجينا كم من ال فرعون يسومونكم سوء العذاب يذبحون أبنا ءكم
ويستحيون نساءكم وفي ذالكم بلاء من ربكم عظيم
“………………..” (QS: Al-Baqarah : 49)
“………………..” (QS: Al-Baqarah : 49)
Dan nubuwat
tersebut terbukti, sebagaimana dikisahkan bahwa Nabi Musa AS beserta kaumnya suatu
ketika diam-diam merencanakan akan meninggalkan negeri Mesir. Dan akhirnya
tepat pada 10 Muharram bersama 600.000 kaumnya beliau bergerak meninggalkan
menuju tanah Sinai. Dan ditengah perjalanan mereka harus terhenti karena
dihadapannya terbentang Laut Merah yang luas nan dalam. Tak cukup itu, ternyata
rencana mereka terdengar oleh Fir’aun sehingga bersama 1.000.000 balatentaranya
mengejar Nabi Musa. Sampai akhirnya hampir terkejar Nabi Musa beserta kaumnya,
dan di keadaan yang terdesak inilah Allah SWT menurunkan wahyu kepada Musa
untuk melemparkan tongkat ke laut. Dan terbelahlah laut selebar 60 KM menjadi
12 jalur, sebagaimana jumlah kabilah kaum pengikut Musa. Jalan tersebut
membelah laut menjadi sebuah jalan dimana air laut tidak membeku tetapi
mengering bahkan tanahpun menjadi kering bagai daratan yang tak teraliri air
sedikit pun. Dengan segera kaumnya menyeberang sampai tanah yang diabadikan
dalam firman Allah SWT
وَطُوْرِ سِيْنِيُنَ (التين :2)
Melihat
laut yang terbelah tersebut membuat tentara Fir’aun bergumam akan begitu
hebatnya sihir Nabi Musa, tetapi dengan angkuhnya Fir’aun berkata bahwa dia-lah
yang memerintahkan laut untuk terbelah sehingga Musa beserta pengikutnya bisa
melewatinya. Di saat genting tersebut,
turunlah Malaikat Jibril dan bertanya kepada
Fir’aun yang sedang menunggangi kuda jantan yang perkasa.
Jibril
AS berkata “Hai Fir’aun, jika ada seseorang yang membangkang dan melawan
perintahmu maka apa yang akan kamu lakukan?”
Maka
dengan lantang Fir’aun menjawab “Maka akan kulemparkan dan kutenggelamkan dia ke
laut di depanku”
Maka
malaikat kemudian berkata : “Sesungguhnya kamu telah menghukumi dirimu
sendiri”.
Kemudian
Malaikat Jibril yang menyamar sebagai seorang lelaki yang menunggangi kuda
betina berjalan menuju ke laut. Maka melihat kuda yang rupawan itu, kuda
Fir’aun berontak dan mengejar kuda betina tersebut menuju laut, melihat hal itu
pasukan Fir’aun menganggap bahwa inilah aba-aba untuk maju sampai ke barisan
selanjutnya.
Dan
setelah itu seluruh pasukan fir’aun berada di tengah lautan, maka Allah SWT
mengembalikan laut tersebut seperti semula, seketika kocar-kacirlah pasukan
besar akibat terjangan derasnya air laut ini. Di kala terjepit inilah, Fir’aun
bersaksi bahwa ia menyembah kepada Tuhannya Bani Israil (Allah SWT) sebagaimana
digambarkan oleh Al-Qur’an:
لا اله الا الذي امنت
بنوا إسرائيل وأنا من المسلمين
Tetapi
penyesalan tinggallah penyesalan, Allah tidak menerima taubat hambanya ketika
nyawa telah sampai di tenggorokan dan Dia memerintahkan Malaikat Jibril untuk
memasukkan lumpur ke mulut Fir’aun sehingga menghalanginya tuk bertaubat
menjelang ajal ini.
Sementara itu kaum Nabi Musa hanya memandang peristiwa
tragis ini dimana jutaan pasukan Fir’aun menjerit ditengah terjangan ombak
ganas. Dasar watak Bani Israil yang selalu ingin tahu, mereka meminta kepada Nabi
Musa untuk menunjukkan secara nyata, bukti bahwa Fir’aun telah benar-benar musnah.
Maka oleh Malaikat Jibril, jasad Fir’aun dilemparkan ke daratan dan akhirnya
sampai sekarang kita bisa menyaksikan di Museum Mesir akan jasad Fir’aun yang
menurut sejarah adalah Ramses II ini. Dalam sejarah juga dibuktikan bahwa
Fir’aun yang dimumikan, inilah satu-satunya Raja Mesir Kuno yang dalam jasadnya
terkandung garam yodium yang cukup tinggi. Hal itu diabadikan dalam Al-Qur’an
فاليوم ننجيك ببدنك
لتكون لمن خلفك اية وإن كثيرا من الناس عن اياتنا لغفلون
Dan
diantara pasukan Fir’aun tersebut ada satu yang diselamatkan oleh Malaikat
Jibril. Ketika ditanya oleh Nabi Musa, maka Jibril menjawab “dia diselamatkan
karena memakai kopyah yang sama denganmu”. Hal ini yang mendasari bahwa kita harus
menyerupai orang yang mulia agar kita tergolong dengan mereka, sebagaimana
hadist Nabi SAW :
من تشبه قوم فهو منهم
Barangsiapa yang
menyerupai suatu kaum maka dia adalah bagian dari mereka
Dan dari peristiwa bersejarah inilah yang melandasi
kaum Yahudi untuk berpuasa di hari asyuro’ untuk menghormati hari mulia ini,
dan ketika Rasullullah mengetahuinya, maka beliau memerintahkan kaum muslimin
untuk berpuasa di hari ini, dan agar terhindar dari tasyabbuh dengan
Yahudi, maka beliau menambahkannya dengan satu hari sebelumnya atau tanggal 9
Muharram yang dikenal dengan hari Tasu’a.
Berpuasa
di hari asyuro’ sama halnya menghapus dosa setahun yang lalu sebagaimana
hadist-nya :
صيام
عاشوراء احتسب على الله أن يكفرالسنة قبله
“Barangsiapa berpuasa di bulan Asy-syuro’maka
akan Allah akan menghapus dosanya setahun yang lampau”.
Di
hadist lain juga dikatakan bahwa hari Asyuro’ juga termasuk hari terbaik
setelah Ramadhan Mubarak bahkan Rasulullah SAW sendiri pernah mewajibkan untuk
berpuasa di bulan ini sebelum digantikan dengan puasa di bulan Ramadan, tak
lain karena begitu mulianya bulan pertama dalam kalender islam ini. Semoga kita
senantiasa memperoleh keberkahan dengan memperbanyak menjalankan ibadah-ibadah
di bulan penuh karomah ini. Amin J
*Disarikan dari ceramah
Gus H. Abdullah Murtadlo di Pesantren Ilmu Al-Qur’an Singosari, Malang
Singosari, 10 Muharram
1437 H













