Senin, 26 Oktober 2015

Hikmah KIsah Nabi Musa dalam Asyuro’



Oleh : Abid
                                                                       Muharram

                Alhamdulilah kita dipertemukan kembali dengan hari penuh keberkahan, malam peristiwa-peristiwa agung bersejarah, diantaranya : Nabi Adam diampuni dosanya, Nabi Idris diangkat ke langit, Nabi Nuh diselamatkan dari Banjir Bandang, Nabi Ibrahim diselamatkan dari kobaran api Namrudz, Nabi Yusuf keluar dari penjara, Nabi Ayub sembuh dari penyakitnya, Nabi Yunus dikeluarkan dari perut Ikan Paus dan masih banyak lagi.
Dari peristiwa diatas yang teragung sehingga disyariatkannya puasa asyuro’ yakni diselamatkannya Nabi Musa dari kejaran Fir’aun. Dikisahkan bahwa sebelumnya telah diramalkan bahwa akan ada dari putra Bani Israil akan menggoyang singgasana Fir’aun yang begitu sombong sampai mengaku sebagai Tuhan, dan akhirnya membuat perintah untuk membunuh seluruh bayi laki-laki dari Bani Israil dan membiarkan bayi perempuannya. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT:
وإذ نجينا كم من ال فرعون يسومونكم سوء العذاب يذبحون أبنا ءكم ويستحيون نساءكم وفي ذالكم بلاء من ربكم عظيم
“………………..” (QS: Al-Baqarah : 49)

Dan nubuwat tersebut terbukti, sebagaimana dikisahkan bahwa Nabi Musa AS beserta kaumnya suatu ketika diam-diam merencanakan akan meninggalkan negeri Mesir. Dan akhirnya tepat pada 10 Muharram bersama 600.000 kaumnya beliau bergerak meninggalkan menuju tanah Sinai. Dan ditengah perjalanan mereka harus terhenti karena dihadapannya terbentang Laut Merah yang luas nan dalam. Tak cukup itu, ternyata rencana mereka terdengar oleh Fir’aun sehingga bersama 1.000.000 balatentaranya mengejar Nabi Musa. Sampai akhirnya hampir terkejar Nabi Musa beserta kaumnya, dan di keadaan yang terdesak inilah Allah SWT menurunkan wahyu kepada Musa untuk melemparkan tongkat ke laut. Dan terbelahlah laut selebar 60 KM menjadi 12 jalur, sebagaimana jumlah kabilah kaum pengikut Musa. Jalan tersebut membelah laut menjadi sebuah jalan dimana air laut tidak membeku tetapi mengering bahkan tanahpun menjadi kering bagai daratan yang tak teraliri air sedikit pun. Dengan segera kaumnya menyeberang sampai tanah yang diabadikan dalam firman Allah SWT
  وَطُوْرِ سِيْنِيُنَ (التين :2)
Melihat laut yang terbelah tersebut membuat tentara Fir’aun bergumam akan begitu hebatnya sihir Nabi Musa, tetapi dengan angkuhnya Fir’aun berkata bahwa dia-lah yang memerintahkan laut untuk terbelah sehingga Musa beserta pengikutnya bisa melewatinya. Di saat  genting tersebut, turunlah Malaikat Jibril dan bertanya kepada  Fir’aun yang sedang menunggangi kuda jantan yang perkasa.
Jibril AS berkata “Hai Fir’aun, jika ada seseorang yang membangkang dan melawan perintahmu maka apa yang akan kamu lakukan?”
Maka dengan lantang Fir’aun menjawab “Maka akan kulemparkan dan kutenggelamkan dia ke laut di depanku”
Maka malaikat kemudian berkata : “Sesungguhnya kamu telah menghukumi dirimu sendiri”.
Kemudian Malaikat Jibril yang menyamar sebagai seorang lelaki yang menunggangi kuda betina berjalan menuju ke laut. Maka melihat kuda yang rupawan itu, kuda Fir’aun berontak dan mengejar kuda betina tersebut menuju laut, melihat hal itu pasukan Fir’aun menganggap bahwa inilah aba-aba untuk maju sampai ke barisan selanjutnya.
Dan setelah itu seluruh pasukan fir’aun berada di tengah lautan, maka Allah SWT mengembalikan laut tersebut seperti semula, seketika kocar-kacirlah pasukan besar akibat terjangan derasnya air laut ini. Di kala terjepit inilah, Fir’aun bersaksi bahwa ia menyembah kepada Tuhannya Bani Israil (Allah SWT) sebagaimana digambarkan oleh Al-Qur’an:
 لا اله الا الذي امنت بنوا إسرائيل وأنا من المسلمين
Tetapi penyesalan tinggallah penyesalan, Allah tidak menerima taubat hambanya ketika nyawa telah sampai di tenggorokan dan Dia memerintahkan Malaikat Jibril untuk memasukkan lumpur ke mulut Fir’aun sehingga menghalanginya tuk bertaubat menjelang ajal ini.
                Sementara itu kaum Nabi Musa hanya memandang peristiwa tragis ini dimana jutaan pasukan Fir’aun menjerit ditengah terjangan ombak ganas. Dasar watak Bani Israil yang selalu ingin tahu, mereka meminta kepada Nabi Musa untuk menunjukkan secara nyata, bukti bahwa Fir’aun telah benar-benar musnah. Maka oleh Malaikat Jibril, jasad Fir’aun dilemparkan ke daratan dan akhirnya sampai sekarang kita bisa menyaksikan di Museum Mesir akan jasad Fir’aun yang menurut sejarah adalah Ramses II ini. Dalam sejarah juga dibuktikan bahwa Fir’aun yang dimumikan, inilah satu-satunya Raja Mesir Kuno yang dalam jasadnya terkandung garam yodium yang cukup tinggi. Hal itu diabadikan dalam Al-Qur’an
 فاليوم ننجيك ببدنك لتكون لمن خلفك اية وإن كثيرا من الناس عن اياتنا لغفلون        

Dan diantara pasukan Fir’aun tersebut ada satu yang diselamatkan oleh Malaikat Jibril. Ketika ditanya oleh Nabi Musa, maka Jibril menjawab “dia diselamatkan karena memakai kopyah yang sama denganmu”. Hal ini yang mendasari bahwa kita harus menyerupai orang yang mulia agar kita tergolong dengan mereka, sebagaimana hadist Nabi SAW :

من تشبه قوم فهو منهم  
Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia adalah bagian dari mereka
                Dan dari peristiwa bersejarah inilah yang melandasi kaum Yahudi untuk berpuasa di hari asyuro’ untuk menghormati hari mulia ini, dan ketika Rasullullah mengetahuinya, maka beliau memerintahkan kaum muslimin untuk berpuasa di hari ini, dan agar terhindar dari tasyabbuh dengan Yahudi, maka beliau menambahkannya dengan satu hari sebelumnya atau tanggal 9 Muharram yang dikenal dengan hari Tasu’a.
Berpuasa di hari asyuro’ sama halnya menghapus dosa setahun yang lalu sebagaimana hadist-nya :
صيام عاشوراء احتسب على الله أن يكفرالسنة قبله
  “Barangsiapa berpuasa di bulan Asy-syuro’maka akan Allah akan menghapus dosanya setahun yang lampau”.
Di hadist lain juga dikatakan bahwa hari Asyuro’ juga termasuk hari terbaik setelah Ramadhan Mubarak bahkan Rasulullah SAW sendiri pernah mewajibkan untuk berpuasa di bulan ini sebelum digantikan dengan puasa di bulan Ramadan, tak lain karena begitu mulianya bulan pertama dalam kalender islam ini. Semoga kita senantiasa memperoleh keberkahan dengan memperbanyak menjalankan ibadah-ibadah di bulan penuh karomah ini. Amin J

*Disarikan dari ceramah Gus H. Abdullah Murtadlo di Pesantren Ilmu Al-Qur’an Singosari, Malang
Singosari, 10 Muharram 1437 H








0 komentar:

Posting Komentar